Semua tergantung hati nurani kali ya.... Ini sisi negatif dari pencapaian suatu tujuan yang menghalalkan segala cara... tapi kita juga harus lihat sisi positif bahwa China berhasil dalam membina prestasi olahraga di negaranya, bahkan menjadi no. 1 di dunia.
Apapun yang terjadi pada umumnya orang akan melihat hasil akhir dari pembinaan prestasi tersebut, tanpa melihat bagaimana caranya mendapatkan prestasi tersebut. Sang atlit lah sebagai pelaku utama yang merasakan penderitaan dalam latihan namun menikmati hasil yang maksimal.
Smoga para atlit itu benar-benar menikmati hasil kerja keras dari pembinaan dan pelatihan yang menyakitkan itu tanpa dipotong lagi oleh KONI eh...maksudnya oleh organisasi pembinaan olahraga di negaranya.
Di Indonesia hal itu tidak mungkin terjadi...begitu melihat latihan yang begitu keras dan menyakitkan, pasti sang calon atlit langsung mengundurkan diri dan mereka pikir lebih baik ngeceng aja di mall
Jadi pasti akan sulit mengembangkan prestasi di negara ini dengan cara-cara seperti itu.